Kamis, 05 Juni 2008

BAYI 1,5 TAHUN HAMIL KEMBAR


PADANG - Aneh bin ajaib. Itulah yang dialami Wulandari, bayi yang berusia 1,5 tahun di Padang. Di dalam perutnya terdapat dua bayi.Anak pasangan Lata Sari dan Syahril, warga Jambi, berhasil dioperasi dokter Rumah Sakit M Jamil Padang, Sumatra Barat, Senin (10/12/2007).
Hasilnya, bayi di dalam perut Wulan masih hidup, meski tidak memiliki organ tubuh yang lengkap.

"Kami memang terheran kemarin bahwa ada dua bayi dalam tubuh Wulan yang masih berusia 1,5 tahun ini, memang masih bernapas namun organ tubuh dua bayi ini tidak lengkap sehingga kita tidak mengetahui jenis kelaminnya," kata Yusirwan, Dokter spesialis Anak yang menjadi tim yang mengoperasi Wulan.

Dalam ilmu kedokteran, "Ini bisa terjadi saat ibu bayi mengandung pada pekan ke-10 saat membentuk organ tubuh, karena Wulan sudah duluan tubuhnya membesar, maka dua bayi lainnya masuk dalam gumpalan tubuh Wulan," terang Kepala RS M Jamil Padang, Yusirwan. Sehingga, lanjutnya, seolah-olah Wulan-lah yang memiliki bayi tersebut

"SETAN MERAH" SAMBUT KEMBAR ASAL BRAZIL


MANCHESTER - Duo kembar pemain muda MU, Fabio dan Rafael musim ini akan memulai karirnya di Manchester United meskipun mereka belum dapat dimainkan hingga musim panas nanti.
Manchester United memang terkenal mempunyai kelebihan dalam mencium bakat talenta-talenta muda. Dan Si Kembar asal Brasil ini menjadi buktinya. Keduanya didatangkan dari klub Brasil, Fluminese.

Uniknya lagi si kembar ini sama-sama berposisi sebagai defender. MU sendiri mencium bakat si kembar ini di sebuah turnamen di Hongkong dua tahun lalu. Dan sejak awal tahun 2006 keduanya diberi waktu oleh Ferguson untuk mengembangkan kemampuannya di liga Brasil. Setelah dua tahun, keduanya diberi lampu hijau untuk kembali ke Old Trafford.

Kembar yang baru bisa bermain untuk Manchester bulan Juli setelah umur mereka genap 18 tahun. Kedua pemain ini juga membela Timnas U-17 Brasil.

ABG LAHIRKAN KEMBAR TIGA 2 TAHUN BERURUTAN

LEONES - Ajaib! Pamela, seorang ABG di Leones, Cordoba, Argentina yang baru berusia 16 tahun, awal pekan Februari 2008 lalu sukses melahirkan tiga bayi kembar perempuan. Ini kembar tiga kedua yang ia lahirkan setelah setahun sebelumnya ia melahirkan tiga bayi kembar perempuan. Menurut penelitian, melahirkan bayi kembar tiga lebih dari sekali sangat jarang terjadi di dunia. Probabilitasnya 8.000:1. Total anak Pamela menjadi 7 orang. Anak laki-lakinya dilahirkan pada saat ia berusia 14 tahun.

Senin, 21 April 2008

KEMBAR TAPI BEDA SIFAT


INI cerita tentang kawan saya. Ia mempunyai anak kembar perempuan umur 11 tahun, Pritha dan Prithi. Meski mereka kembar, tetapi perilaku mereka berbeda. Pritha sangat rajin belajar dan patuh perintah orang tua. Sedangkan Prithi tidak demikian. Prithi selalu membantah, malas-malasan mengerjakan tugas rumah dari gurunya. Ia sepertinya tidak punya motivasi untuk meraih rangking kelas. Apa yang terjadi pada keluarga ini?
Selidik-punya selidik, ternyata kawan saya tadi –sebagaimana diakuinya-- pernah melakukan kesalahan besar dalam hidup keluarganya. Saat ia dipindah tugas ke luar Jawa --untuk menghemat biaya-- ia hanya mengajak Pritha. Sementara Prithi dititipkan ke neneknya di Jawa. Inilah kesalahan terbesar dalam membesarkan kembar, orang tua pilih kasih. Kini, meskipun ia sudah berkecukupan dan tinggal bersama lagi di Jakarta, namun ada yang terluka di dalam keluarga tersebut. Prithi merasa bahwa dia bukanlah pilihan orang tuanya, karena yang dipilih adalah Pritha. Bisa jadi ia mewujudkannya dengan perilakunya.


BANYAK orang mengira, anak kembar pasti sifat, harapan, kepandaian, dan lain-lain pasti sama. Dalam kasus di atas, kawan saya rupanya tercekoki dengan persepsi tradisional yang keliru, bahwa anak kembar harus dipisah satu sama lainnya. Pemahaman ini membuat kawan saya (dan juga orang tua kembar yang lain) mengesampingkan perasaan satu anak kembarnya karena menganggap mereka memiliki persepsi sama dengan anak kembarnya yang lain.
Pendapat ini tidak benar. Meski kembar, tetapi mereka berdua tetap merupakan individu yang mempunyai sifat, harapan, keinginan, kepandaian, dan kepribadian yang berbeda. Hal itu menuntut perlakuan berbeda pula. Komunikasi Prithi yang baru saja berkumpul kembali dengan orang tuanya tentu tidak sepenuh komunikasi Pritha dengan kedua orang tuanya. Komunikasi yang terjalin antara keluarga itu dengan Prithi masih dalam kategori proses belajar untuk saling mengenal satu sama lain. Berbeda dengan Pritha yang sejak lahir sampai sekarang tidak berpisah dengan orangtuanya. Semua karakter yang dimilikinya tentu saja dikenali kedua orang tuanya.
Mungkin Prithi sedih dan kecewa karena baru berkumpul dengan orang tuanya kemudian. Dia melihat Pritha lebih beruntung karena sejak lahir tidak harus berpisah dengan orangtuanya. Dapat juga muncul perasaan disingkirkan karena kehadirannya dianggap merepotkan sehingga harus dititipkan kepada neneknya, sekalipun mungkin sang nenek sangat memanjakannya.
Dibutuhkan komunikasi yang harmonis antara orang tuanya dengan Prithi agar harapan, keinginan dan masalahnya dapat ditampung dengan baik sehingga ditemukan solusi terbaik. Perlu kesabaran ekstra agar Prithi tidak merasa asing dengan orang tuanya, saudara dan keluarga utuh yang belakangan ini dikenalnya lebih intens.
Ketika sekarang Prithi kumpul bersama keluarga utuhnya, bisa juga dia merasa dan berpikir mengapa masih dibedakan dengan Pritha? Perasaan lain mungkin juga muncul, mengapa hanya Pritha yang perhatikan dan dipuji orang tuanya? Perasaan-perasaan seperti itu yang dapat membuat Prithi merasa mendapat perlakuan lain dari orang yang sama-sama melahirkan mereka. Jadi, Prithi merasa tidak mendapatkan kasih sayang seperti saudara kembarnya.
Sepertinya sepele, namun itulah noktah penyakit yang menyerang keluarga kawan saya. Kunci penyembuhannya terletak pada kawan saya dalam merekonstruksi kembali keutuhan komunikasi terhadap kedua anak kembarnya dan anak-anak yang lainnya. Auto-healing, penyembuhan sendiri yang tentu saja harus dilakukan oleh keluarga kawan saya. Apapun metodanya bisa dipakai, kunci utamanya adalah memperbaiki komunikasi. Komunikasi yang berkesinambungan di dalam keluarga memang perlu dikembangkan.
Bagaimana pun mengasuh anak kembar memang repot. Yang paling penting orang tua tidak membanding-bandingkan kemampuan masing-masing. Juga tidak menuntut kemampuan atau keberhasilan yang sama pada mereka, karena mereka merupakan individu yang berbeda. Sebaiknya orang tua bersabar mengenal dan menghadapi sikap anak kembarnya meskipun dianggap sangat menjengkelkan. Jangan sampai anak merasa semakin frustasi dengan keterasingannya dalam keluarganya sendiri.

Jakarta, 21 Februari 21/02/2008

Jumat, 11 April 2008

SPIRITUAL KEMBAR


TADINYA aku tak percaya, ikatan antara saudara kembar sedemikian kuatnya. Diyakini kalau salah satu kembar sakit maka yang lain akan ikut-ikutan sakit. Lama-lama aku memiliki aksioma sendiri tentang nilai-nilai spiritual si kembar. Saya setuju, dalam hal tertentu ikatan spiritual mereka bisa kuat. namun, dalam beberapa hal masih bisa terbantahkan oleh logika awam.

Saya manfaatkan anak kembar saya untuk eksperimen. Suatu ketika G-1 sakit, maka tak beberapa lama kemudian G-2 ikut-ikutan sakit. Ikatan spiritual? Bisa jadi bukan!. Selidik punya selidik, sakitnya G-2 karena tertulari oleh G-1. Betapa tidak? Mereka tidur bersama dalam kasur yang sama, memakai handuk yang sama, dan memakai baju yang sulit di-protect "hanya" untuk G-1 bukan milik G-2. Virus atau bakteri pasti akan mudah menular sari satu kembar ke kembar lainnya.

Ketika G-1 "pulang kampung" ikut mbaknya, maka setiap malam kulihat G-2 yang tetap tinggal di "kampungnya" di Jakarta selalu merenung. "Kapan ya G-1 pulang?", atau berguman lirih, "Sedang apa ya G-1 sekarang?". Saya pikir, mereka berdua "main telepati" karena pada saat dicek via SMS ke kampung, G-1 memikirkan hal serupa. Namun hal ini saya tepis kemudian. Wajar kalau mereka "merindukan" sesamanya sebab di rumah, mereka terbiasa berdua dan sekarang ini sendirian.

Mungkin aksioma saya agak gamang untuk eksperimen yang ke tiga ini. Ketika G-1 sakit, iseng-iseng G-2 saya ajari tentang terapi penyembuhan ala hypnoterapi, "Kalau saudara kembarmu sakit, pegang keningnya dengan telapak tangan, dan ucapkan sebentar lagi sembuh ya?...". Apa yang terjadi kemudian? masih dalam hitungan menit, panas G-1 mulai mereda dan Alhamdullilah sejam kemudian sudah bercanda tertawa-tiwi dengan saudara kembarnya. Ikatan spiritual yang kuat? Ataukah ada logika awam yang bisa menjelaskan? Bisa saja hal itu terjadi karena pengaruh sugesti ala hyponoterapi yang saya ajarkan. Tetapi bukan tidak mungkin, sembuh karena ikatan yang kuat antara mereka.

Rabu, 19 Maret 2008

BILA KEMBAR BERSAING


“Punya anak kembar? Sering berantem ya?”

PERTANYAAN tadi acapkali dilontarkan kepada saya, ketika tahu saya memiliki anak kembar. Sepertinya stigma berantem ini melekat erat pada kembar. Padahal sejatinya, mereka anak-anak yang jauh dari keinginan berantem.

Bersaing Sejak Kandungan
PERSAINGAN antara dua anak kembar, sebenarnya tidak an sich dianggap sebagai sebuah perseteruan, Mereka sudah dalam keadaan survive sejak mereka membelah pada tahapan zygote, embrio sampai ketika terbentuk menjadi foetus (janin) dalam rahim ibu. Setiap tahapan mengandung risiko sendiri-sendiri.

Saat terjadi pembelahan sel, risiko tidak membelah sempurna menjadikan terjadi fenomena kembar siam. Saat berdesakan sebagai foetus dalam rahim, risiko kematian salah satu foetus mengancam ketidakberlanjutan foetus kembarannya. Belum lagi begitu bayi kembar dilahirkan, ketahanan hidup masing-masing membuat yang mampu bertahan hidup di udara luar rahimlah yang masih bertahan.

Stigma di atas wajar terbentuk, karena memang pada tahapan pasca lahir yang bisa terlihat. Meski kalau pun terbentuk persaingan lebih pada karena pengaruh lingkungan sekitar. Tak heran bilamana banyak literatur mengkategorikan persaingan ini dimulai pada saat mereka sama-sama mulai menghirup oksigen.

Mereka diawali dengan persaingan untuk sama-sama dapat menghirup oksigen. Seiring berjalannya waktu, mereka akan bersaing untuk mendapatkan perhatian lebih dari kedua orangtuanya dan lingkungannya.

Berebut Perhatian
KETIKA mereka bersekolah, tanpa sadar persaingan pun muncul. Orangtua (dan juga guru) akan cenderung memisahkan kelas mereka. Pemisahan ini pun akan menumbuhkan persaingan di antara mereka. Mereka akan berebut membuktikan diri, siapa yang lebih unggul di kelasnya masing-masing. Unggul di antara teman-teman sekelas, dan bisa jadi unggul dari kembarannya di kelas lain. Persaingan ini pun kadang berlanjut ke dalam rumah. Di mana mereka akan saling menceritakan keunggulan masing-masing selama hari-hari mereka di sekolah.

Hanya saja, walaupun mereka selalu ingin menunjukan semacam kelebihan mereka satu sama lain, hubungan di antara mereka tetap harmonis. Kadangkala meski muncul kecemburuan, mereka tetap merasa senang bila saudara mereka juga merasa senang. Egaliter dan unik, bukan malahan menjatuhkan seperti perseteruan sebagaimana dilakukan orang dewasa. Acapkali mereka saling menghormati kembarannya ketika mendapatkan prestasi lebih.

Walau pun mereka bersaing, mereka tetap bekerjasama dengan akrab. Mereka acapkali memanfaatkan identitas kembar mereka untuk saling membantu sesama saudara. Cerita sinetron ada benarnya untuk hal ini.

Sikap Orang Tua
SEGALANYA tergantung pada orang tuanya. Sebaiknya kita harus ciptakan suasana yang kondusif di dalam rumah. Kalau pun memunculkan suasana persaingan, tetap membina mereka untuk berpikir konstruktif. Sering-seringlah mendoktrinasi kembar: bahwa mereka berdua sama-sama spesial dalam kacamata orang tua, bukan makhluk aneh karena kembarnya, dan betapa beruntungnya kita memiliki mereka berdua. Berilah pengertian bahwa dalam hidup ini ada yang kalah dan ada yang menang. Tidak semuanya menang. Hidup adalah sebuah pilihan.
Sumber: Pengalaman pribadi, www.inspiredkidsmagazine.com

NAMA ANAKKU G-1 & G-2


SEPERTINYA nama itu berkesan eksperimen biologis. Namun aku terpaksa melabelkannya ala spesimen sebab si kembar anakku baru mendapat nama setelah 7 hari lahir. Rupanya, ada aturan sendiri dalam memberi nama. Namun, daripada aku memanggil dengan sebutan seadanya, kupakai saja nama yang tertera dalam label di tangan mungil anakku. Kupakai G-1 untuk putri kembar ku yang lahir pertama kali dengan berat 3,1 kg. Sementara G-2 untuk putri kembar ku yang lahir belakangan dengan berat 3,2 kg. Beda lahir (lebih tepat dilahirkan karena operasi caesar) mereka terpaut hanya 1 menit. Pilihanku tidk salah. Rupanya, itu adalah kode yang dipakai dokter RS Pondok Indah untuk label anak-anakku. Ketika iseng-iseng kutanya ke dokter keluarga apa artinya G? G adalah gemelli satu dan gemelli dua. Gemmeli adalah istilah kedokteran untuk anak kembar.

Sejatinya, terasa tidak manusiawi kalau label itu juga aku panggilkan kepada mereka. Namun untuk kepentingan pembedaan pada catatan harianku, aku melabelkan mereka sebagai G-1 dan G-2. Termasuk dalam catatan di blog ini. Tentunya Anda lebih mudah memahaminya kalau saya menyebut G-1 dan G-2 bukan?